08 September 2014

HRD.. oh.. HRD..





Manusia adalah modal utama organisasi. Kemampuan suatu organisasi untuk mencapai visi & misi tergantung pada manusia yang ada di dalamnya. Bagi Anda yang bersentuhan dengan bidang manajemen SDM (baca HRD),  tentu kenal dengan "jargon" pentingnya manusia yang berkualitas bagi organisasi, walaupun pada realitanya kita masih banyak melihat praktek manajemen HRD  yang menimbulkan kekecewaan bahkan kegalauan, segalau  ABG masa kini.

Pada kesempatan kali ini penulis tidak membahas kegalauan yang ada dalam praktek HRD. Penulis akan coba mengupas sejarah perkembangan HRD serta fungsi-fungsi yang umumnya ada praktek HRD. Semoga dengan pembahasan ini kita akan lebih memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan HRD.
  

Jasmerah,  HRD !
   
Sejarah HRD  ternyata berlangsung cukup panjang. Bahkan dari zaman baheula sudah ditemukan literatur yang membahas fungsi HRD. Dokumen tertua yang ditemukan membahas mengenai upah minimum dan penyelesaian perselisihan kerja, adalah Codes of Hammurabi di zaman Babilonia kuno, tahun 1750 sebelum masehi.

Loncat ke abad pertengahan Georg Bauer (1556)  dalam bukunya De Re Metallica, menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan para kerja. Beliau mendeskripsikan bahaya-bahaya yang dihadapi  pekerja dalam industri tambang, serta metode  bisa dilakukan  untuk mengantisipasinya

Era revolusi industri  pun kemudian datang,salah satu titik penting dalam perkembangan HRD. Pergeseran pola mata pencaharian masyarakat yang sebelumnya berpusat kepada agraria menjadi industri, memunculkan banyak pabrik yang mempekerjakan orang. Ini berdampak pada munculnya serikat buruh dengan tuntuntan kondisi kerja yang lebih layak, sehingga mendorong perusahaan membentuk suatu unit khusus yang  menangani urusan kepegawaian.

Tahun 1901 di Amerika Serikat unit HRD pertama kali terbentuk pada perusahaan The National Cash Register Co. Presdir perusahaan tersebut kala itu John H. Paterson mengorganisasikan unit personalia untuk mengelola keluhan karyawan. 

Bagi anda para manajer HRD, pada tahun 1920 di Inggris  pertama kali jabatan anda muncul.  Kala itu jabatan manajer HRD bertujuan untuk mengatur hubungan perusahaan dengan karyawan. Seperti  upah dan  kedisiplinan serta komunikasi dengan serikat buruh.

Era Perang dunia membawa kemajuan dalam ranah HRD. Kala itu untuk pertama kali fungsi rekrutmen dimutakhirkan dengan mengaplikasikan ilmu psikologi. ABRInya Amerika Serikat   menggunakan test Army Alpha untuk menyeleksi prajuritnya yang akan maju ke medan perang. 

Pada tahun 1960-1980an fungsi manajemen personalia semakin berkembang dengan dipengaruhi oleh perkembangan dari ilmu sosial lain seperti psikologi, sosiologi dan perilaku organisasi. Pada era inilah Human Resources Management  muncul.  Dengan kesadaran bahwa karyawan adalah aset perusahaan yang harus dikelola dengan baik.  Penekanan pentingnya motivasi dan komitmen karyawan mendorong  spesialisasi dalam manajemen HRD, yang kemudian memunculkan unit khusus terpisah dalam  penggajian, pengembangan karyawan, rekrutmen, dan pengelolaan hubungan industrial.

Era  tahun 2000an hingga sekarang mulai muncul gerakan HR yang menekankan evolusi fungsi dari manajemen HRD yang tidak lagi sebagai fungsi pendukung, namun juga sebagai patner bisnis perusahaan. Pemikir  besar dalam dunia HR seperti Dave Ulrich maupun Jac-Fitz Enz, memberikan warna segar dan visi terhadap kontribusi yang diberikan HRD kepada organisasi di masa depan.


Bung Karno, presiden pertama kita pernah berpesan "Jasmerah!, jangan sekali-kali melupakan sejarah". Bagi mereka yang tidak belajar sejarah maka siap-siap ambil ujian perbaikan. Yang dimaksud disini bukan hasil ujian sejarah penulis ketika sekolah dahulu, namun bagi yang tidak belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh pendahulu kita, siap-siaplah untuk mengulanginya.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari sejarah HRD?

Menyimak perjalanan panjang dari evolusi ilmu hrd, dapat ditarik suatu benang merah. HRD timbul dan berkembang karena kepedulian terhadap manusia dan  hubungannya dengan organisasi tempat ia bernaung.

Terjun dalam dunia HRD  bisa sangat melelahkan. Benturan kepentingan antara karyawan dan perusahaan / organisai, selalu penuh dengan dinamika yang terkadang tidak berakhir dengan indah. Yang paling penting adalah kita tidak  pernah kehilang antusiasme. Sampai kita tersesat dan hilang antusiasme akan manusia dan organisasinya, disaat itu pula lah praktisi HRD memutuskan diri dengan benang merah sejarahnya. (atau saatnya pindah ke perusahaan lain).

Agar tidak ikut tersesat dalam dialektika pertentangan kepentingan, ada baiknya kita memiliki pijakan dasar yang kuat  mengenai apa sebenarnya fungsi-fungsi yang ada dalam praktek HRD serta tujuannya.  


Fungsi-fungsi dalam HRD

Ada tidaknya departemen HRD tergantung dari seberapa besar organisasi. Bagi organisasi yang baru tumbuh ataupun para wiraswastawan yang merintis dengan sedikit karyawan,  belum perlu memiliki departemen HRD secara terpisah. Walaupun pada kenyataannya fungsi seperti rekrutmen, pengembangan karyawan, dan pemberian upah, sudah  dilakukan oleh pendiri  organisasi.

Lalu kapan sebaiknya departemen HRD mulai dibentuk secara khusus? Penulis belum mendapatkan literatur yang secara spesifik menyebutkan jumlah minimum karyawan sehingga perlu dibentuknya departemen HRD. Dilapangan penulis menemukan realita yang cukup beragam. Ada organisasi yang 30 orang sudah mulai pusing dan perlu unit HRD, ada yang jumlahnya 100 orang baru mulai terasa pusing dan perlu unit HRD tersendiri.

Dengan kata lain tergantung dari seberapa kuat menahan "pusing" pendiri organisasi / perusahaan mengelola  kepentingan dengan karyawannya, barulah kemudian muncul departemen HRD.

"Jadi HRD baru muncul waktu juragan pusing?" Semoga penulis tidak menyinggung siapapun , namun begitulah realitanya. Sudah umum kita dengar pimpinan organisasi berujar, "Pokoknya urusan orang urusan HRD, urusan saya adalah mengelola bisnis". Seakan akan ada pemisahan antara mengelola orang dan mengelola keseharian bisnis perusahaan / organisasi.

Penulis berpendapat pemimpin organisasi yang baik tidak akan melakukan pemisahan antara mengelola bisnis dengan mengelola manusia, karena semakin matang sebuah organisasi maka akan semakin timbul kesadaran bahwa mengelola orang tidak bisa dipisahkan dengan mengelola bisnis.

Lalu apa saja fungsi-fungsi yang ada di HRD?

Banyak literatur yang menyatakan beragam fungsi. Menurut pendapat pribadi penulis, fungsi HRD  dapat dibagi menjadi lima:
 1. Rekrutmen & Penempatan
 2. Pelatihan & Pengembangan
 3. Kompensasi
 4. Pengelolaan Hubungan Industrial
 5. Manajemen Kinerja

Dari fungsi-fungsi yang disebutkan diatas,  cenderung (walau tidak selalu) sama  antara satu organisasi dengan yang lain. Yang kemudian membedakan adalah penerapannya karena sangat dipengaruhi budaya serta visi & misi  antara suatu organisasi dengan yang lain.

Setiap organisasi memilki budaya  yang khas serta visi & misi yang melatar belakangi eksistensi mereka.  Ada organisasi yang sangat menekankan pentingnya inovasi dan kreatifitas seperti Apple (motto: Think Different). Ada pula organisasi yang menekankan pentingnya kecintaan kepada bangsa, disiplin, dan keberanian seperti KOPASSUS (moto: Berani, Benar, Berhasil).

Memahami secara mendalam keunikan dan tujuan organisasi akan memberikan  pandangan yang sangat bermanfaat untuk praktek HRD. 


Penulis akan menjabarkan secara sekilas  fungsi-fungsi HRD, untuk pembahasan detailnya akan coba dibahas dalam tulisan lain.
1. Rekrutmen & Penempatan 
Agar terus tumbuh dan berkembang organisasi membutuhkan manusia dalam proses bisnisnya (profit atau non-profit). Fungsi rekrutmen dan penempatan pada HRD bertujuan untuk memastikan organisasi memiliki orang yang tepat ditempat yang tepat.

Kata tepat disini merupakan sesuatu yang sangat penting. Kesalahan dalam merekrut berarti  telah menempatkan seseorang yang tidak cocok dengan jabatan (unfit for the job) atau tidak cocok dengan organisasi (unfit for the organization). Dampak rekrutmen yang tidak tepat bisa sangat merugikan perusahaan. Diantaranya adalah  moral kerja yang rendah hingga  lambatnya proses dan jeleknya kualitas pelayanan.

Mengingat pentingnya rekrutmen, maka banyak organisasi  ingin memastikan bahwa mereka memilih karyawan yang tepat. Hal ini disiasati dengan proses rekrutmen yang bertahap mulai dari wawancara, tes bahasa, tes psikologi, tes kesehatan, hingga pengecekan referensi  dalam menyeleksi karyawannya.  

2. Pelatihan & Pengembangan
Adalah kecenderungan organisasi untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan karena tuntutan persaingan dan kebutuhan selalu berkembang. Organisasi yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman terancam punah dan hilang. Proses adaptasi di organisasi memerlukan pembelajaran oleh setiap insan yang ada di dalamnya

Dengan dasar ini maka fungsi pelatihan & pengembangan muncul dalam HRD, dengan tujuan  memastikan setiap anggota organisasi dilengkapi dengan keterampilan  yang tepat untuk mendukung organisasi  berkembang.

Aktifitas pelatihan dan pengembangan banyak bentuknya. Bisa dalam bentuk aktifitas belajar dalam ruang, pemagangan, rotasi, praktek kerja, dan lain sebagainya.  

Yang paling penting dalam aktifitas pelatihan & pengembangan adalah  memiliki tujuan yang jelas serta benar-benar dapat memenuhi kebutuhan keterampilan para anggota untuk mencapai target organisasi.


3. Kompensasi
Untuk perusahaan, kompensasi menjadi salah satu topik hangat dalam keseharian praktek SDM. Bisa dipahami karena hal ini berhubungan secara langsung dengan “dapur” karyawan. Dalam era persaingan global seperti sekarang, menentukan berapa (dan dalam bentuk apa) kompensasi menjadi tantangan yang cukup sulit.

Perusahaan dituntut efisien secara biaya untuk memastikan bisa berkompetisi dengan perusahaan lain, dilain pihak harus memastikan bahwa kompensasi yang diberikan cukup menarik sehingga talenta potensial tetap mau tinggal dalam perusahaan.

Fungsi kompensasi yang baik harus dapat memperhatikan tiga hal. Keadilan bagi karyawan (baik internal maupun eksternal), kemampuan perusahaan, dan peraturan perundangan yang berlaku.

Lalai dalam penentuan dan pelaksanaan kompensasi lazim berbuntut panjang.  Dibutuhkan kejelian, kesabaran, dan pengkajian yang mendalam untuk dapat mencapai suatu paket kompensasi yang efektif dan efisien.


4. Pengelolaan Hubungan Industrial
Keluhan karyawan yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan demotivasi kerja, turunnya produktifitas, bahkan hingga demonstrasi tidak sehat yang bisa menghambat proses kerja. Memastikan komunikasi yang sehat terjalin antara karyawan dan perusahaan menjadi fungsi utama HRD dalam pengelolaan hubungan industrial.

Keluhan karyawan umumnya disebabkan karena peraturan yang tidak jelas, komunikasi yang buruk, kepemimpinan yang lemah atau minimnya pemahaman dalam praktek manajemen yang baik.

Hal ini bisa disiasati dengan memfasilitasi komunikasi formal anatara perusahan dengan perwakilan karyawan secara konsisten. Baik melalui penyusunan Perjanjian Kerja Bersama   / Peraturan Perusahaan, komunikasi bipartite atau tripartite, dan perangkat komunikasi lainnya yang bisa digunakan.

5. Manajemen Kinerja 
Dalam era modern ini, tuntutan suatu organisasi terus berkembang untuk memberikan pelayanan terbaik kepada penggunanya. Setiap insan di dalam organisasi diharapkan dapat fokus berkontribusi kepada tujuan organisasi.

Semakin besar organisasi berkembang semakin mudah kehilangan fokus terhadap target dan tujuan organisasi. HRD dalam fungsi manajemen kinerja, harus mampu memfasilitasi perusahaan untuk menyelaraskan target dari tingkat perusahaan hingga tingkat individu dalam organisasi.

Hal ini bisa dilakukan diantaranya dengan menjalankan proses penilaian kinerja yang berbasis kepada target perusahaan. Dengan ikut aktif dalam mendukung dan mengelola proses manajemen kinerja, HRD akan mendapatkan banyak sekali pandangan bermanfaat yang bisa diaplikasikan dalam fungsi HRD  lainnya.


Lets Enjoy The Ride

Fungsi dalam HRD yang disebutkan penulis diatas berkaitan erat antara satu dengan yang lain. Kekeliruan dalam rekrutmen misalnya bisa berimbas kepada demotivasi karyawan. Gagal dalam memberikan solusi yang tepat dalam pelatihan sangat mungkin mempengaruhi kualitas pencapaian kinerja perusahaan.

Diperlukan pemahaman yang mendalam dalam banyak ranah pengetahuan untuk bisa mengelola manusia dengan baik. Dan dipundak para praktisi HRD banyak rekan kerja menaruh harapan yang begitu dalam.

Penulis sepakat dengan kutipan Pak Jack Welch diawal artikel. Praktisi HRD yang baik adalah seseorang yang bisa jernih tanpa prasangka dalam mendengarkan keluh kesah dan permasalahan para karyawan, namun dilain pihak juga harus ikhlas dan berani untuk menyatakan yang benar dan salah.

Tidak mudah memang, namun yang pasti dunia HRD sangat menantang, setidaknya menurut penulis :)
Lets enjoy the ride 
Cak Sunawan

17 Oktober 2012

Kisah di Kereta Api

 

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela.
Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya. Dengan rasa girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya:

”Ayah, coba lihat, pohon-pohon itu… mereka berjalan seakan-akan menyusul kita”.

Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagia mendengar celoteh putranya itu.

Di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang dgn jengkel mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak:

“Ayah, lihat itu, itu awan khan…? lihat… mereka juga ikut berjalan bersama kita juga…”.

Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.
 

Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu:

“Kenapa anda tidak membawa anak anda yang idiot ini ke dokter jiwa?”

Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia dia menghela napas & menjawab:
“Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir. ia baru dioperasi, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya sendiri”.

Pasangan suami itu pun terdiam seribu bahasa.

¤ Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan mem-vonis seseorang dengan apa yg anda lihat saja. Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya anda akan sangat tercengang.


14 Oktober 2012

Telur dan Kepompong

 

Coba kita amati sebutir TELUR.
Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehidupan di dalam telur akan berakhir...

Tapi jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatannya SENDIRI dari dalam, maka kehidupan

baru telah lahir!. Anak ayam lahir dengan lucunya.

Coba perhatikan juga KEPOMPONG.

Jika sebuah Kepompong dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka ulat akan keluar tanpa sayap & batal menjadi kupu2 yg siap terbang. Hanya bisa merayap lemah tanpa sayap.

Tapi jika sebuah Kepompong dipecahkan oleh kekuatan nya SENDIRI dari dalam, maka kehidupan
baru telah lahir. Ulat berubah menjadi Kupu2 yg sayapnya kuat & indah, berterbangan kesana kemari.

Demikianlah diri kita. Hal2 BESAR selalu dimulai dari DALAM, dari diri kita sendiri, bukan dari luar.


Tuhan memberi tantangan kehidupan kepada kita seperti cangkang telur & kulit kepompong. Jika dipecahkan oleh orang lain, justru akan memperlemah kita. Kita harus bisa memecahkannya sendiri!


Memang terasa sulit, perlu ketangguhan & kekuatan hati. Tapi demikianlah yang diminta Tuhan dari kita...demikianlah kita di desain Tuhan.


Terus mencoba. Man jadda wajada, man shabara zhafira....

Kisah Sebotol Minyak

 
Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia
memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu

pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya. Dalam perjalanan pulang, ia

terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika

mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis,

"Ooo... saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak

setengah botol!" Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia

memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis.

Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak.
Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya

pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya

tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh. Ia pulang

dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, "Ooo... ibu saya tadi

terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu

pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan

separuh minyak." Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia.

Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.

Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol
minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang

ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya

tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya

dengan sangat bahagia. Ia berkata, "Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak."
Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga
seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah,

dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada

ibunya, "Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari

agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang

tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu."

Kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata yang terang.
Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya
dalam bentuk KERJA.

Kisah Bangkai Tikus


 
 
KISAH SUATU PAGI…

Pagi itu ketika bangun tidur

Saya dikagetkan oleh sesosok bangkai yang penuh darah di karpet Indah di ruang keluarga rumahku
Sesosok bangkai tikus yang penuh darah dengan perut teruburai, terbujur di pojokkan karpet mengotori pagi hariku
Maka pagi itu dengan menggerutu aku buang bangkai itu dengan penuh amarah, tambah marah ketika tahu bahwa ada seekor kucing di depan pintu yang mengotori terasku dengan kakinya yang penuh darah… sehingga dengan penuh amarah aku lempar dengan sandal yang terdekat dengan tempatku berdiri…
Lalu perasaan bad mood it terbawa terus di jalan waktu menyetir mobil sehingga karena tidak terlalu “konsen” sampai menyenggol sepeda motor… sehingga menyisakan baret yang cukup dalam di bemper mobilku…
Sehingga di kantor-pun jadi tidak mood kerja – hingga dimarahi bos – hingga kerja seharian dengan pikiran tidak enak
hingga sore ketika pulang kerja…merasakan betapa menyedihkannya hari itu… bahkan bertambah emosi ketika menyadari karpet yang di ruang keluarga yang tadinya Indah sekarang menjadi kotor luar biasa dengan adanya darah tikus yang sudah mengering… lebih sulit untuk dibersihkan… sehingga malam itu semua tinggal menjadi penyesalan karena betapa banyak kerugian yang terjadi gara-gara seekor tikus…
BANDINGKAN DENGAN YANG INI…
Pagi itu ketika bangun tidur
Saya dikagetkan oleh sesosok bangkai yang penuh darah di karpet Indah di ruang keluarga rumahku
Sesosok bangkai tikus yang penuh darah dengan perut teruburai, terbujur di pojokkan karpet mengotori pagi hariku
Maka pagi itu dengan menggerutu aku buang bangkai itu dengan penuh amarah, ketika tahu keluar rumah baru sadar bahwa ada seekor kucing di depan pintu yang mengotori terasku dengan kakinya yang penuh darah… lalu aku MENYADARI… seekor kucing sudah menjalankan tugasnya menjaga rumahku…
Seekor tikus pengganggu telah berhasil dienyahkan dari rumahku.
Setelah selesai membuang bangkai tikus, aku bersihkan kaki kucing itu dengan siraman air dan sedikit menggosok sembari berbisik … TERIMAKASIH… aku BERSYUKUR ada kucing di rumahku…
Lalu setelah itu kubersihkan juga darah di karpet sebelum mengering… juga teras aku pel bersih…
Lalu berangkat kerja dengan satu pikiran nyaman … nanti malam tidak ada lagi gangguan tikus yang sering mengganggu tidurku dengan tingkahnya di atas atap rumahku….

Dan hari itu berjalan lebih nyaman dan Indah…


“ANDA memang tidak bisa mengubah apa yang akan anda hadapi tapi anda bisa mengubah bagaimana anda menghadapainya, dan itu menentukan apa yang akan ANDA peroleh di masa yang akan datang”

Film Omar dan Keteladanan Umar bin Khattab

 
Film Omar yang menceritakan kehidupan salah satu sahabat Rosulullah yang di jamin oleh Allah utk masuk surga yakni Umar Bin Khattab. Film ini sedang menjadi polemik di kalangan ulama timur tengah. ada ulama yang setuju dan ada yang tidak setuju.
 

Salah satu ulama yang tidak setuju adalah mufti Arab saudi beliau mengatakan bahwa karakter umar bin khattab terlalu mulia utk di wakilkan oleh para manusia zaman sekarang dan atas segala kelemahan dan kerendahan saya di bandingkan dgn para ulama yang menolak film tsb justru saya pihak yang setuju akan pemutaran film tsb.
 

Alasan saya adalah saat ini kecendrungan minat baca masyarakat negeri ini semakin menurun. indikasinya adalah banyaknya penerbit buku dan toko buku yang bangkrut. dan televisi saat ini menjadi media pengganti buku utk dijadikan sarana pendidikan.

Tapi bukan itu sebenarnya yang hendak saya maksud untuk menulis tulisan ini, ada hal lain yang mengganggu pikiran saya ttg sejauh mana film omar tsb membekas dan menyentuh di dalam benak para kaum muslimin sehingga mereka menjadi manusia dari level rendah menjadi manusia yang patut utk di hormati.


Beberapa hari setelah 1 syawal saya berbincang2 dgn salah satu pejabat pemerintah kota bekasi, beliau mengatakan kalau dia dan keluarganya menjadikan film omar "santapan sahur kedua". dan mereka tidak pernah melewatkannya
tapi mengapa pejabat itu masih menggunakan kendaraan dinas utk keperluan keluarganya. sedangkan umar bin khattab tidak seperti itu. (tidakkah beliau berfikir akan hal itu???)

kemudian saya pernah ngobrol dgn seorang pengusaha kelas "ikan kakap" di bekasi, beliau keluarga yang menjadikan film omar sebagai menu tambahan penambah nutrisi keimanan. dan seluruh keluarganya harus kumpul utk menonton film tersebut,
tapi mengapa beliau dan keluarganya jarang sekali datang ke mesjid memenuhi "undangan" Allah utk shalat berjamaah. sedangkan umar bin khattab pernah menginfakkan seluruh kebunnya gara2 terlambat dtg ke mesjid utk shalat berjamaah.

belum lagi perbincangan-perbincangan saya dgn beberapa ustadz yang sering nongol di televisi dgn gaya hidup yang mencolok mata para kaum dhuafa.

mereka mengaku sebagai juru dakwah yang ingin mempresentasikan ajaran Muhammad SAW dan para sahabatnya. tetapi kehidupan Muhammad SAW dan para sahabatnya tidak ingin kalian contoh hai para ustadz selebririts. Lihatlah bagaimana Muhammad SAW dan para sahabatnya berpenampilan sederhana tidak berlebihan padahal mereka para pemimpin negara dan pengusaha.

saya sangat berharap film omar mampu menjadi mesin pencuci otak para kaum muslimin di negeri ini yang otaknya sudah di cekokin oleh kebudayaan "alien"
dan sebagai konsumen yang di tuntut cerdas, seharusnya kita mampu mengambil contoh dan kita terapkan di kehidupan kita, jangan hanya mengatakan " semalam saya nonton film omar dan bagus sekali filmnya" tapi di saat bersamaan dia sedang melakukan sesuatu yang di larang oleh umar bin khattab. (Fefen Alif Sugandi)

10 Oktober 2012

Bapak, Anak dan Keledai





Ditengah Perjalanan Sang Anak naik Keledai dan Bapaknya berjalan disampingnya, ada orang melihat dan berkomentar:
 

"DASAR ANAK GAK TAU DIRI !, GAK HORMAT SAMA BAPAKNYA, MASA BAPAKNYA DISURUH JALAN KAKI".

Ditengah melanjutkan perjalanannya, gantian sang Bapak yang menaiki Keledai & Anaknya berjalan disampingnya. Ada orang mengomentari lagi:

 

 "INI BAPAK KOK GAK SAYANG SAMA ANAK, MASA ANAKNYA DIBIARKAN JALAN KAKI".
 

Perjalanan masih dilanjutkan lagi. Karena dikomentari terus, mereka berdua memutuskan menaiki Keledainya bersama-sama. Lalu ada orang lagi melihat & berkomentar lagi: 

"DASAR ANAK BAPAK SAMA" NGAK PUNYA KASIHAN SAMA HEWAN.., MASA KELEDAI DINAIKI BERDUA SIH".

Karena salah lagi apa yang dilakukannya maka Bapak dan Anak berjalan kaki sambil memegang tali Keledainya yang juga berjalan tanpa dinaiki. Namun tetap saja ada orang yang berkata:

 

"HAAAHH!...BAPAK & ANAK YG BODOH, MASA PUNYA KELEDAI TIDAK DIGUNAKAN SAMA SEKALI".

Karena Perjalanan sudah hampir sampai, Bapak dan si Anak menghindari komentar orang lalu gantian berdua menggotong Keledai tersebut dipunggung mereka.

Orang2 yang berpapasan, terheran2. Komentar mereka:


"DASAR EDAN..!, DUNIA TERBALIK !, KELEDAI KOK MENUNGGANGI MANUSIA".

APA PESAN MORAL KISAH SEDERHANA INI ??..

Dimanapun kita berada, apapun yang kita lakukan, akan ada selalu pandangan negatif dari orang-orang disekitar kita!, ITU PASTI.
Tinggal kita melihatnya sebagai TEMBOK yang menghalangi, atau sekedar JEMBATAN BATU yang memang harus kita lalui untuk menuju ke masa depan. SEMUA TERGANTUNG DARI CARA BERPIKIR KITA SENDIRI.

Mau jadi PEMENANG - yang terus optimis, senyum-senyum saja melihat penghalang-penghalang sambil mengucap: "InsyaAllah bisa...".
Atau menjadi PECUNDANG yang semua hal terasa sulit melulu, hanya mendengarkan komentar orang lain dan sampai memberatkan langkah untuk maju. 

 

09 Oktober 2012

Ketika Kehormatan mulai luntur (dibalik fenomena facebook)

 

Tanpa kita sadari, setan menggangu kita melalui facebook. Jika kita tidak berhati-hati dan koreksi diri kita dapat terjerumus dalam berbagai dosa & maksiat. Demi Masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari.


Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.


Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi setan yang ditunggu-tunggu ...’siapa calon bapak si jabang bayi?’


Ada kabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebritis yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.


Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.


Wuiiih......ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya, apapun, diketahui orang , dikomentarin orang bahkan mohon maaf ....’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.


Fenomena itu bernama facebook , setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :


Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?” ------ kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “Mau ditemanin? Dijamin puas deh...”


Seorang wanita lainnya menuliskan “Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...” kemudian komen2 nakal bermunculan...


Ada yang menulis “ bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi.... ”, ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.


Ada pula yang komen di wall temannya “ eeeh ini si anu ya ...., yang dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu....” ----lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis.


Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ? ’----langsung berpuluh2 komen datang.


Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit...”


Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih ” .


Dan ribuan status-status yang numpang jahilliyah dan pengin ada komen-komen dari lainnya.


Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.


Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.


Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg di dalam foto tersebut sudah berjilbab


Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....


Ada pula seorang pria meng upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.


Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah...., yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya . Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah radhiyallahu 'anha:


“ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang Humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab, “ Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata, “Baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah....


Ingatlah Abdurahman bin Auf radhiyallahu 'anhu mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya, maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”. (Bukhari dan Muslim).


Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga .


Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan dengan sindiran keras kepada kita


“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).


Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.


Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.


Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.


Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.


catatan


***" Iffah (bisa berarti martabat/kehormatan) adalah bahasa yang lebih akrab untuk menyatakan upaya penjagaan diri ini. Iffah sendiri memiliki makna usaha memelihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal, makruh dan tercela."


Sumber : FTJAI

07 Oktober 2012

Bulan Pernah Terbelah

   


Benarkah peristiwa menakjubkan 14 abad yabg lalu saat Rasulullah dengan izin Allah membelah bulan?. Apapun yang datang dari Allah dan Rasulnya masuk akal atau tidak maka tiada pilihan untuk menolaknya. Karena sebuah penolakan adalah sbuah jawaban sedekat apa Iman kita pada kebenaran itu?. Untaian Risalah berikut smoga bisa menambah keyakinan kita akan sebuah kebenaran,... kebenaran yang mutlak dari-Nya.  
Allah berfirman: "Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)" Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur'an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya:
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:

Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.


Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, .."


Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali...!!!"


Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:
Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ....sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??"


Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati."

Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah...

Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS.


Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, " Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna". Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.


Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab,


"Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali".


Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah ... Maka aku pun berguman, "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar, dan ... saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.


Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq

26 Juli 2012

Orang Jepang Naik Haji



“Subarashi! Subarashi!” atau “Luar Biasa!”, adalah kata yang berulangkali diucapkan oleh Omar-san, orang Jepang dalam kloter haji kami. Kalimat itu diucapkannya saat melihat Ka’bah dan melakukan gerakan memutarinya selama tujuh kali (thawaf). Bersama dengan Omar-san, ada 10 orang Jepang lain yang ikut berangkat haji tahun ini dari rombongan jamaah haji embarkasi Jepang.

Bagi Omar-san, yang baru memeluk Islam sekitar 3 tahun lalu, ini adalah kali pertamanya ia naik haji. Ia begitu kagum dan terkesima dengan masifnya jumlah jamaah haji dari berbagai penjuru dunia yang datang pada saat bersamaan dan melakukan ritual haji yang sama. Omar-san, yang tidak mau memberitahukan pada saya nama asli Jepangnya, menganggap ada satu kekuatan besar yang mampu membawa berjuta-juta orang tersebut secara sukarela untuk datang ke tanah suci ini. Hal itulah yang membuatnya terpana di depan Ka’bah.

Berangkat haji bersama orang Jepang adalah hal yang menarik bagi saya. Bagaimana tidak, selama tinggal di Jepang, saya jarang melihat orang Jepang yang beragama Islam (ataupun beragama lainnya, seperti Kristen atau Yahudi). Kebanyakan orang Jepang memang tidak memilih satu agama tertentu. Mereka kebanyakan menganut ajaran Shinto yang lebih bersifat budaya ketimbang sebuah agama.

Di sisi praktis sehari-hari, sebenarnya orang Jepang sudah berperilaku lebih dari orang beragama. Mereka sangat santun, sabar, bersih, tekun, disiplin, dan tertib dalam bermasyarakat. Semua ajaran agama yang menganjurkan kebaikan dan perilaku terpuji telah mereka terapkan tanpa harus memeluk suatu agama tertentu. Hal itu bisa dilihat secara nyata dalam kehidupan masyarakat Jepang. Mereka tertib mengantri, berlalu lintas dengan santun, menjaga fasilitas umum tetap rapi dan bersih, membuang sampah di tempatnya, dan saling membantu dengan tulus.

Kisah-kisah pascatsunami dan bencana gempa bumi pada Maret 2011 lalu menjadi sekian banyak contoh tentang tingginya adab dan perilaku masyarakat Jepang. Di negeri yang beragama sekalipun, saat bencana, perilaku yang muncul kadang tidak agamis (menumpuk barang kebutuhan pokok, menjarah, menaikkan harga semena mena, dan saling merugikan sesama). Hal itu tidak terjadi di Jepang saat bencana tsunami lalu.

Agama, memang datang ke dunia untuk memperbaiki akhlak, atau perilaku manusia. Sayapun bertanya pada Omar-san, apabila akhlak di masyarakat sudah baik, masih perlukah orang Jepang memeluk agama.

Menurutnya, Jepang memang sebuah masyarakat yang tertata baik dan aplikatif dari ajaran agama. Namun pada ujungnya, manusia tetap membutuhkan tambatan hati. Sebuah oase tempat mengadu dalam keadaan sendiri, baik suka maupun duka. Sebuah tautan kala sedang dirundung beragam masalah dan tekanan dunia. Tanpa agama, berbagai pelarian dicari oleh orang Jepang untuk mencari ketenangan hati. Jadi, menurut Omar san, orang Jepang masih memerlukan agama.

Hal itulah yang melatarbelakangi Omar-san untuk memeluk agama. Ia mengatakan bahwa setelah beragama, ia menemukan ketenangan hati dan kedamaian jiwa. Meski demikian, banyak orang yang bertanya padanya, tidakkah sulit menjadi Islam di Jepang.

Permasalahan bagi orang Jepang dalam memeluk Islam bukan pada masalah ideologi, namun lebih pada urusan praktikalitas ritual. Menjalankan ibadah sholat sebanyak lima kali sehari, puasa selama sebulan, dan melaksanakan ibadah haji, adalah aktivitas yang sangat sulit dilakukan dalam lingkungan orang Jepang. Bangsa Jepang adalah pekerja keras. Kalau kita bekerja di perusahaan Jepang misalnya, sulit mendapat dispensasi ijin sholat pada waktunya, apalagi cuti melakukan ibadah haji. Nyaris mustahil untuk dikabulkan. Belum lagi soal pilihan makanan halal yang amat jarang didapatkan di Jepang.

Namun berbeda dengan dunia barat yang memiliki prejudice tentang Islam, di Jepang pandangan masyarakat tentang Islam secara umum tidak seburuk di barat. Bagi orang Jepang, agama apa saja dipandang baik, karena ajaran setiap agama adalah mengarah pada kebaikan. Oleh karena itu, Islam lebih gampang diterima banyak orang Jepang.

Omar-san sendiri beruntung. Ia adalah Presiden Direktur (Sachoo) sebuah perusahaan konstruksi yang dimilikinya sendiri. Perusahaannya tergolong besar di daerah Kasugai, Aichi-Ken, di sekitar kota Nagoya. Jadi, ia bisa mengatur masalah praktikalitas ritual agama, termasuk saat ia memutuskan naik haji bersama istrinya, yang juga orang Jepang.

Selain Omar-san, ada dua orang Jepang lainnya yang sering berdiskusi dengan saya saat ibadah haji kemarin. Kebetulan saya tinggal satu tenda dengan mereka, saat di Mina maupun saat wukuf di Arafah. Mereka adalah Saif Takehito dan Muhammad Syarief. Keduanya telah mengganti atau mencampur nama asli Jepangnya dengan nama Islam.

Saif Takehito adalah seorang diplomat Jepang yang bekerja di Kedutaan Besar Jepang di Dubai. Ia jago berbahasa Arab dan ahli membaca Al Qur’an (saya saja sampai minder mendengar ia membaca Qur’an). Sementara Muhammad Syarief adalah seorang wirausaha yang tinggal di Tokyo .

Karakter dan kultur dari orang Jepang yang baik dan santun tersebut, tercermin saat mereka menjalankan ibadah haji. Dalam kondisi apapun, mereka tetap diam dan sabar. Persis saat mereka menghadapi bencana alam bulan Maret lalu.

Tekanan terbesar dari ibadah haji adalah soal kesabaran. Mulai dari kedatangan di Arab, prosesi ibadah, kehidupan sehari-hari, hingga kembali ke Jepang, ujian kesabaran datang silih berganti. Banyak dari kita yang kadang lepas kontrol, lalu marah-marah dan malah beradu mulut dengan jamaah lain. Tapi saya melihat para jamaah haji dari jepang memiliki kesabaran yang tinggi. Padahal mereka dihadapkan pada kondisi yang bertolak belakang dengan keadaan negaranya yang tertib dan teratur.

Suatu malam di Mina, terjadi kekacauan di maktab (kelompok tenda) kami. Saat kembali dari melempar jumrah, tenda rombongan kami dipindahkan pengelola maktab tanpa sepengetahuan kita semua. Akibatnya, barang-barang kami semua tercecer, bahkan ada yang kehilangan peralatan-peralatan personalnya.

Beberapa jamaah haji dari negara lain ada yang marah-marah dan menyalahkan panitia karena tidak menjaga barangnya. Ada yang menuding-nuding panitia, bahkan sampai ingin menuntut ganti rugi. Salah satu jamaah malah hampir beradu mulut dengan saya, karena ia menganggap saya tidak memberi lokasi tempat tidur untuknya. Masya Allah!

Mereka sampai harus ditenangkan oleh kita semua yang ada di tenda, “Sabar haji… Sabar.. Istighfaar.. This is Hajj”. Barulah kemudian mereka mengucapkan istighfar dan meminta maaf pada kita semua karena menimbulkan kekacauan di tenda.

Sementara itu saya melihat Muhammad Syarief kehilangan sleeping bag-nya malam itu. Ia hanya celingak celinguk saat banyak jamaah protes. Tapi ia diam saja tanpa protes dan tidak mengeluh. Padahal kakinya bengkak karena melepuh saat berjalan di Mekah sebelumnya. Ia malah menggelar handuk dan tidur langsung di karpet dalam diam.Simpati jamaah di tenda kami pun diarahkan pada dirinya. Kamipun meminjamkannya sleeping bag, memberinya obat dan makanan, serta menawarkan lokasi tidur yang nyaman. Semua jamaah simpati pada kesantunan orang Jepang ini.

Hal serupa saya perhatikan dari diri Saif Takehito. Suatu malam kita harus menunggu di Arafah hingga menjelang tengah malam. Saat itu ada kecelakaan bis sehingga semua jalan menuju Muzdalifah ditutup. Akibatnya, bis rombongan kita tertunda keberangkatannya ke Muzdalifah. Banyak jamaah di kelompok kami yang beradu mulut dan berdebat. Mereka merasa harus tiba di Muzdalifah sebelum tengah malam dan melakukan sholat dua rakaat, sesuai sunah Nabi. Pimpinan rombongan mengatakan bahwa dalam kondisi darurat, sholat bisa dilaksanakan di Arafah. Tapi banyak jamaah yang tidak terima, perdebatan pun terjadi bahkan cenderung memanas.

Saif Takehito saya lihat hanya duduk saja di bawah pohon sambil berulangkali melafazkan nama-nama Allah (berdzikir). Saat saya tanya bagaimana pendapatnya, Saif berkata banyak hal yang terjadi di luar kehendak manusia, kita sebagai manusia tak bisa berbuat apa. Semua kehendak Allah. Jadi janganlah kita saling berbantahan, kita harus bersabar dan ikuti perintah pimpinan kita. Masya Allah, kita semuapun jadi malu oleh ucapan dari orang Jepang yang notabene baru memeluk Islam tersebut.

Meski orang Jepang dihadapkan pada suasana yang jauh berbeda dengan negerinya, mereka ternyata bisa memahami dan tetap bersikap sabar. Mereka tidak mengeluh dan menyalahkan keadaan. Hal tersebut memberi saya sebuah kesadaran, bahwa keber-agama-an bukan semata soal pengetahuan. Akhlak dan perilaku baik, terbentuk bukan saja dari pengetahuan, tapi lebih pada kebiasaaan.

Orang Jepang sejak kecil sudah dibiasakan dan dididik berbuat baik, sabar, dan memerhatikan kepentingan orang lain. Di sekolah, di rumah, di masyarakat, ajaran dan yang dilihat sama. Sementara banyak orang beragama yang hanya diajarkan dan diminta menghafalkan cara berbuat baik dan sabar.
Itulah sebabnya dulu Nabi senantiasa berkata, “Biasakanlah berbuat baik, biasakanlah berbuat baik…” Bukan menghafal perbuatan baik, tapi membiasakan berbuat baik. Tentu tujuannya agar kita menjadi orang baik, yang sebaik-baiknya.

by  Junanto Herdiawan