26 Januari 2010

Kisah Si Tukang Cukur



Ada seorang tukang cukur tua yang baik hati disebuah kota di United States.
Suatu hari seorang penjual bunga datang kepadanya untuk memotong rambut. Selesai potong rambut,dia bermaksud membayar tetapi tukang cukur menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan".
Sipenjual bunga sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu ucapan terima kasih dan selusin bunga mawar yang telah menanti di depan pintu.


Seorang polisi datang untuk potong rambut dan dia pun bermaksud membayar setelah selesai dipotong rambutnya. Tetapi, si tukang cukur pun menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan". Si polisi pun sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.
 
Pada keesokan paginya,ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu ucapan terima kasih dan selusin donat yang telah menanti didepan pintu.

Dihari berikutnya datanglah seorang software engineer dari Indonesia untuk potong rambut, ketika dia hendak membayar, si tukang cukur pun menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan".
Si software engineering dari Indonesia pun amat sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, .. coba tebak !!! apa yang tukang cukur temukan  di depan pintu  ???????????? ????????? ???????



Dapatkah kamu menebaknya ???????????






Apakah kamu belum tau jawabannya?? ????????? ?






Ayo.Berfikirlah seperti orang indonesia .....!!!!!!






YUP
Selusin orang Indonesia telah menunggu untuk potong rambut GRATIS !!!!!!!!!

05 Januari 2010

Niccolo Paganini Virtuoso Yang Pantang Menyerah



Niccolò Paganini, Lahir di Genoa, 27 Oktober 1782 adalah seorang pengarang musik serta pemain biola, viola, dan gitar dari Italia. Ia adalah salah seorang virtuoso biola paling terkenal, dan disebut-sebut sebagai salah satu pemain biola terhebat yang pernah hidup, dengan intonasi musik yang sempurna dan teknik yang tiada duanya. Walaupun Eropa pada abad kedelapan belas memiliki beberapa pemain biola yang luar biasa, namun Paganini bisa dianggap sebagai satu-satunya virtuoso biola abad kesembilan belas.

Suatu hari Niccolo Paganini sedang memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh.

Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak,"Hebat, hebat."

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.

Dengan mata berbinar dia berteriak, "Peganini dengan satu senar". Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.

Renungan:
Hidup kita dipenuhi oleh persoalan,kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah.

Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda?
Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, janganlah melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah itu dengan indahnya. Terus berjuang dan jadilah yang terbaik!.


29 Desember 2009

Lelaki Sejati



 Ini kisah nyata. Benar-benar terjadi di atas muka bumi. Telah ditulis dengan tinta emas oleh banyak sejarahwan dalam buku-buku mereka. Sebuah kisah nyata tentang lelaki-lelaki sejati di masa Umar bin Khattab ra.

Dimasa Kekhalifahan Umar bin Khattab, ada seorang pemuda yang mengarungi padang pasir untuk menunaikan umrah di Tanah Suci. Pemuda itu tiba di sebuah oasis di pinggir sebuah permukiman penduduk. Ia berhenti dan istirahat.  Karena kelelahan pemuda itu tertidur. Ketika pemuda itu tidur , tali pengikat untanya lepas. Dan unta itu, tanpa sepengetahuan pemuda berjalan mencari makan, karena kelaparan.Unta itu masuk kesebuah kebun yang suburtak jauh dari tempat itu. Penjaga kebun itu adalah seorang kakek. Unta itu tak ayal lagi. Karena kelaparan, memakan dan merusak tanaman kebun itu.

Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Tapi sang unta itu tidak mau beranjak dari tempatnya.  Karena panik dan takut dimarahi tuannya, sang kakek memukul unta itu.Dan atas kehendak Allah,  unta itu mati.
Sang kakek semakin panik dan cemas,  apalagi pemuda pemilik unta itu terbangun dan mendapati untanya  telah mati. Karena tidak ada orang lain selain kakek itu di dekat bangkai unta, pemuda itu berprasangka bahwa kakek  tua itulah yang membunuh untanya. Dan kaket itu mengakuinya setelah  sang pemuda mengintrogasinya.

Seketika itu sang pemuda marah besar dan  gelap mata. Ia memukul kakek itu dengan pemukul yang digunakan  untuk memukuli untanya. Dan kakek itu tewas.

Pemuda itu sangat panik dan menyesal ketika mengetahui kekhilafannya. Ia tidak berniat membunuh kakek itu,  hanya marah besar. Tiba-tiba datanglah dua pemuda yang tak lain anak sikakek .  Mereka terkejut
melihat ayahnya mati dan ditempat itu hanya ada si pemuda.  Akhirnya tahulah kedua anak kakek itu,bahwa ayahnya dibunuh  oleh sipemuda itu. Mereka lalu menangkap si pemuda dan menyeretnya kehadapan Umar bin Khattab untuk  diadili.

Sang pemuda mengakui perbuatannya dan Umar pun menjatuhi hukuman mati ( Qishash) untuk pemuda itu. Namun, sang  pemuda minta penangguhan eksekusi hukuman, karena ia harus memberi tahu  keluarganya dan
menyelesaikan utangnya yang belum tuntas dikampungnya.  Umar pun bersedia mengabulkan permintaaan pemuda itu dengan syarat  ada yang bersedia menjadi penjamin  pemuda itu.

Pemuda itu cemas dan bingung. Siapa yang mau jadi penjaminnya? ia tidak punya kenalan dan kerabat didaerah itu. Bagaimana mungkin akan ada orang yang bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi penjaminnya. Tiba-tiba ada orang lelaki maju dan berkata kepada Umar, " Wahai Amirul Mu'minin, saya bersedia menjamin pemuda ini."  Umar kaget, Ia menatap tajam lelaki itu yang tak lain adalah Abu Dzar Al Ghiffari ra. Umar berkata dengan nada serius, " Abu Dzar, sadarkah kamu dengan resiko kesediaan mu menjadi penjamin pemuda ini?"

Dengan tegas Abu Dzar menjawab,' Ya saya sadar. Saya siap menanggung resikonya."
Umar lalu berkata kepada pemuda itu," Hai anak muda kau telah memiliki penjamin. Sekarang Pulanglah.  Selesaikan urusanmu dan segera kembalilah kesini untuk mempertanggung  jawabkan perbuatanmu."

Pada hari yang telah ditentukan, masyarakat sudah berkumpul di lokasi pelaksanaan eksekusi hukuman Qishash, Abu Dzar.  Hari semakin panas, siang semakin terik, dan pemuda itu belum juga  ada tanda-tand datang. Ketika hari memasuki sore, dan pemuda itu belum  juga datang., Masyarakat riuh membicarakan kebodohan Abu Dzar yang  bersedia menjadi penjamin orang asing yang tidak dikenal.  Masyarakat juga cemas, jika sampai matahari tenggelam dan pemuda itu  belum juga datang, maka Abu Dzar harus menggantikan pemuda itu untuk  dipancung.

Namun, Abu Dzar tetap tenang. Dengan rasa tawakal yang tinggi kepada Allah ia menunggu detik2 matahari semakin  dekat keperaduannya. Dan matahari tenggelam, pemuda itu belum datang.  Maka eksekusi harus
dijalankan. Dengan tenang Abu Dzar maju ketempat  eksekusi. Algojo disiapkan. Banyak yang menangis melihata  Abu Dzar siap dihukum mati untuk dosa yang  tidak dilakukannya.

Dan, ketika algojo sudah mengangkat tangannya dengan pedang terhunus siap ditebaskan ke leher Abu Dzar, seorang penduduk berteriak.  Ia melihat di kejahuan ada bayangan dan kepulan debu. Ada yang datang.
Ia meminta ditunggu sebentar sampai jelas siapa yang datang.  Semua menoleh kebayangan itu termasuk Umar bin Khatab ra.  Umar minta agar yang datang  ditunggu dulu.

Bayangan itu semakin dekat. Dan ternyata yang datang adalah pemuda itu untuk memenuhi tanggung jawabnya.  Semua orang berdecak takjub dan haru. Bisa saja pemuda itu melarikan diri dari hukuman mati.  Tapi ia tetap datang. Dengan napas terengah-engah pemuda itu minta maaf  atas keterlambatannya karena ada halangan dijalan. Karena kagum  pada kejujuran pemuda itu, Umar bertanya," Wahai pemuda, aku kagum padamu.Kenapa engkau memilih datang padahal kau bisa saja lari dari  hukuman mati?'

Pemuda itu menjawab,: Wahai amirul Mu'min, alasanya sederhana saja.
Aku tidak mau ada yang mengatakan bahwa tidak ada lagi  lelaki-lelaki sejati dikalangan umat muslim yang dengan ksatria  berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia juga bagaimana mungkin  saya
tega membiarkan orang lain tidak bersalah yang rela  menjadi penjaminku mati  karena perbuatanku."

Lalu umar menoleh kepada Abu Dzar dan bertanya, "Dan kamu Abu Dzar, apa yang membuatmu yakin untuk menjadi penjamin pemuda  asing ini dan kamu siap menggantikan dirinya untuk dihukum mati jika  dia tidak datang?"

Abu Dzar menjawab," aku melakukan ini agar tidak ada yang mengatakan bahwa tidak ada lelaki sejati dikalangan umat islam  yang bersedia menolong saudaranya yang membutuhkan pertolongan. AKu  tidak merasa rugi di hadapan Allah. Kalau pemuda itu tidak datang  dan aku harus mati menggantikannya, kematianku syahid di jalan Allah,  karena aku memang  tidak bersalah."

Umar bin Khatab ra diliputi rasa kagum dan haru. Dia lalu memutuskan untuk segera mengeksekusi pemuda itu sebelum waktu  salat mahgrib habis. Tiba-tiba ada yang berteriak" Tunggu wahai  amirul mu'min, bolehkan kami minta agar pemuda ini dibebskan dari  hukuman mati?!

yang berteriak itu adalah dua pemuda anak kakek  yang tebunuh itu. Umar menjawab," Apa yang membuat kalian minta  pembatalan hukuman ini?"

Mereka menjawab," sungguh kami kagum dengan dua lelaki sejati ini izinkan kami memafkan pemuda yang saleh yang jujur ini.  kami tidak ingin ada yang mengatakan bahwa dikalangan umat islam tiada  lelaki
sejati yang memaafkan kesalahan.  Bukankah Al'quran membolehkan bagi ahli waris untuk memberi maaf dan membatalkan  Qishash pada seorang yang melakukan pembunuhan? kami rasa pemuda saleh ini pantas untuk kami maafkan."

Seketika gemuruh takbir dan tahmid berkumandang. Seluruh masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu takjub  dengan mata berkaca-kaca. Mereka terharu menyaksikan tingginya ahlak  dalam jiwa lelaki-lelaki
sejati yang  berjiwa ksatria itu.

Setiap kali teringat kisah nyata ini, saya sering bertanya-tanya masih adakah lelaki-lelaki sejati berjiwa  ksatria di negeri ini? Semoga masih ada, sebab sejarah menulis bahwa  bangsa yang besar adalah bangsa yang
dihuni oleh lelaki-lelaki sejati bukan  para pecundang dan pengecut.

Besarnya suatu bangsa tidak dilihat dari jumlah penduduknya tapi dilihat dari jumlah manusia-manusia berjiwa  ksatria dan berahlak mulia. Manusia-manusia berkarakter dan berjiwa besar.  Semoga mereka masih ada di indonesia.  AMin!

sumber: tidak diketahui

27 Desember 2009

Belajar Dari Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong)




Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.


10 Desember 2009

Belajar Dari Pensil





Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"


Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai."


"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."


"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."


Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.


"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".


"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".


"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".


"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".


"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

22 November 2009

Nasi Goleng




Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal di dekat rumahnya.
Cadel: "Bang, beli nasi goleng satu"

Abang: "Apa ... ?"
Cadel: "Nasi goleng!"
Abang: "Apaan?" (Ngledek lagi)
Cadel: "Nasi goleng!!!!!"

Abang: "Ohh... nasi goleng..."

Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal. Sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan "nasi goreng" dengan benar. Hingga akhirnya dia mampu mengucapkan dengan baik dan benar.

Hari 2 .....

Dengan perasaan bangga, si cadel ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengucapkan pesanan dengan tidak cadel lagi.
Cadel: "Bang, saya mau beli NASI GORENG, bungkus!!!"

Abang: "Ohh ... pake apa?"

Cadel : ".... pake telol ....." (Sambil sedih)
Akhirnya kembali dia berlatih mengucapkan kata "telor" sampai benar.

Hari 3 .....

Untuk menunjukkan bahwa dia mampu, dia rela 3 hari berturut-turut makan nasi goreng.
Cadel: "Bang, beli NASI GORENG, pake TELOR!!!! Bungkus!"

Abang: "Ceplok atau dadar?"

Cadel: "Dadal...!" (dengan spontan)
 

Kembali dia berlatih dengan keras...

Hari 4
........
Dengan modal 4 hari berlatih lidah, hari ini dia yakin mampu memesan dengan tanpa ditertawakan.
Cadel: "Bang, beli NASI GORENG, pake TELOR, di DADAR!!!!!"
Abang: "Hebat kamu ' del , udah nggak cadel lagi nich, harganya Rp.2,500.- ' del ."


Si cadel menyerahkan uang Rp 3.000,- kepada si abang, namun si abang tidak memberikan kembaliannya, hingga si cadel bertanya.
Cadel: "Bang, mana kembaliannya? "

Abang: "Oh iya, uang kamu Rp 3.000,- harganya Rp 2.500,-, kembaliannya berapa del ? (sambil senyum ngledek) Si cadel gugup juga untuk menjawabnya , dia membayangkan besok bakal makan nasi goreng lagi.
Tapi akhirnya dia menjawab : "GOPEK... !!!"sambil tersenyum penuh kemenangan.


INTI DALI CELITA INI ADALAH HIDUPLAH TELUS DENGAN PENUH PELJUANGAN !!! JANGAN MENYELAH YAH !


(sumbel celita dali : Vianty)



Take It Easy !




Yang disebut sebagai 'masalah' sebenarnya sangat jarang merupakan 'masalah sebenarnya'.
Terkadang kita melihat dan merespon 'hal' tersebut secara berlebihan yang lebih sering menjadi 'masalah'.
Bayangkan sebelum mengatasinya saja, kita sudah menyebutnya sebagai 'masalah', merasa sulit, berat, rumit, susah, tak mungkin diselesaikan dll.
Pikiran jauh lebih JERNIH dan RINGAN untuk BERPIKIR dan jangan terlalu EMOSIONAL serta MENGUMBAR ENERGI untuk marah .... santai saja mari kita selesaikan dengan tenang.....

saat kita punya PERSEPSI lebih RINGAN tentang hal itu, maka kita akan mampu menyelesaikannya dengan jauh lebih baik.

Anak kecil memandang semuanya dengan RINGAN dan MUDAH, saya heran mengapa orang dewasa kerapkali memperumit segala sesuatu. Mari menjadi bagian dari penyelesaian masalah (problem solver) dan bukan menjadi pembuat masalah (problem maker).

TAKE IT EASY!
BE A POSITIVE ....



16 November 2009

Kekuatan Bisa !


Ketika pertama kali alat transportasi bernama kereta api diperkenalkan di dunia, banyak terjadi protes.
Di Jerman, para ahli mengatakan bahwa jika kereta api memiliki kecepatan sebesar 25 km/jam, itu merupakan kecepatan yang paling mengerikan, penumpang akan mati, karena sakit kepala, pusing karena kecepatan tersebut, penyakit jantung, hingga hidung para penumpangnya akan mengeluarkan darah dan mati kehabisan nafas ketika memasuki terowongan.

Saat itu pendapat para ahli sangat diperhitungkan, sehingga uji coba kereta api menghadapi tantangan yang sangat luar biasa.Namun kita bisa melihat, seandainya pendapat para ahli tersebut dinyatakan zaman sekarang, pasti kita semua akan tertawa terbahak-bahak, karena kereta api sekarang memiliki kecepatan hingga 500 km/jam.Maglev; Mangnetically Levitated, adalah kereta mengambang dengan kecepatan sangat tinggi (500 km/jam).
Saat ini kereta magnet mengambang ini sudah beroperasi di Shanghai, China.
Kasai mengklaim akan membuat kereta api mengambang (Maglev) tercepat di dunia dengan 581 km/jam.

Ini sudah dibuktikan dalam sebuah uji coba.Pada kenyataan tidak ada penumpang yang mengalami pusing atau serangan jantung, apalagi mati, seperti yang ditakutkan oleh para ahli. Itu merupakan contoh nyata bahwa para ahli juga manusia, dan setiap manusia bisa menghadapi apa yang disebut mental-blocking.

Dan dasar dari segala kesuksesan untuk mencapai apapun impian kita, adalah bahwa kita harus mendobrak lebih dahulu setiap "ketidakmungkinan" yang ada di dalam pikiran kita.

Blocking mental, kondisi dimana sebelumnya pikiran kita mengatakan hal tersebut tidak mungkin, harus menjadi mungkin, dan menjadi BISA.
Ketika seseorang sudah terbiasa melatih hal di atas, cara berpikirnya akan luas dan tidak dibatasi, dan akan menjadi orang yang lebih kreatif, memiliki inovasi yang tinggi, sehingga dapat mendobrak setiap ketidakmungkinan, menjadi serba mungkin, serba BISA.
Contoh konkrit dalam kehidupan nyata, ketika anda diberikan suatu target sales tertentu oleh perusahaan anda, jika anda lebih dahulu mengatakan hal itu tidak mungkin, pintu pikiran anda akan tertutup rapat, namun ketika anda berpikir mengatakan Bisa !, pintu pikiran Anda akan terbuka lebar-lebar, menciptakan kreatifitas berpikir dan bertindak. Demikian halnya ketika anda ingin mencapai kesuksesan dalam sebuah impian anda, dan anda awali dengan berpikir bahwa kesuksesan itu sulit, tidak mungkin, bahkan mustahil anda capai, maka andapun akan mengalami hal tersebut.

30 Oktober 2009

TIDAK MAU MENGALAH




Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.
Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan berpandangan. 
Anak lelaki itu berpikir, "Wah, kurang ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku." Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama, "Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku."
 
Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa "Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian." Keduanya saling berpandangan tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.
Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah lalu bergegas menyusul anaknya ke kota . Hingga akhirnya ia sampai di jembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan
berhadap-hadapan. Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, "Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di situ?"
 
Anak lelakinya menjawab, "Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?"
Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, "Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!"

Teguh hati memang boleh. Sesekali mengalah demi tercapainya tujuan bukanlah hal yang tercela. Tetapi bukan berarti lalu kita harus menjadi tembok bagi tercapainya tujuan orang lain bukan?
(Disadur dari: Chinese Wisdom)


26 Oktober 2009

Keselarasan Ibadah Dan Profesi




Oleh : Timotius Hendra Haes

Suatu kali diadakan kunjungan oleh semua pemuka agama, ke sebuah lembaga pemasyarakatan. Para pemuka agama diperlihatkan kegiatan kegiatan yang dilakukan para napi di dalam penjara . Hingga suatu saat salah seorang pemuka agama yang menyaksikan ada seorang napi yang rajin sekali membaca kitab suci , hingga ia penasaran dan bertanya:" Adik di penjara karena apa ya ?". " Saya dipenjara , karena berbuat kriminal pak, mencuri , menodong, merampok " . "Tetapi saya melihat bahwa sebenarnya adik ini, termasuk baik, karena rajin sekali membaca kitab suci . Apakah adik juga selalu beribadah?", tanya sang pemuka agama. " Tentu saja pak, dari sejak kecil saya tak pernah melupakan ibadah sekalipun ?". Sekarang sang pemuka agama menjadi heran . Ia bertanya lagi :" Kalau adik rajin beribadah, mengapa adik melakukan perbuatan kriminal ?". "Oh, jangan salah pak!", katanya seperti menggurui. " Ibadah itu berkaitan dengan agama saya. Tetapi mencuri , menodong dan merampok , itu profesi
saya ".

Saya sendiri waktu mendengar kisah ini dituturkan , seperti "nano nano ", bermacam perasaan timbul seketika, ada perasaan lucu dan geli, tetapi dibagian lain, ada rasa sedih dan bingung juga.

Pertanyaannya adalah :" Apakah benar, bahwa profesi itu memang suatu dunia sendiri yang berbeda dengan ibadah ?" .
Atau pertanyaan lain nya adalah : " Apakah merupakan hal yang bijak, jika kita menempatkan profesi keluar dari ibadah ?" .

Ketika suatu kali saya berdiskusi dengan seorang teman yang pengusaha, maka entah darimana hikmat itu datang , ternyata kami berkesimpulan bahwa banyak sekali " korupsi " yang menjadi budaya di negara kita, bukan semata mata karena kebutuhan keuangan semata mata, tetapi karena penempatan perbuatan ini yang bukan dianggap sebagai suatu dosa.

Sehingga banyak sekali umat beragama yang rajin beribadah, tetapi tetap saja melakukan korupsi . Karena korupsi memang dianggap sebagai profesi saja yang tak ada kaitan dengan urusan agama .
Memang di kalangan atas, perbuatan kriminal semacam mecuri , menodong dan merampok, memang layak dimasukkan dalam daftar dosa . Tetapi untuk korupsi, sepertinya bukan sebuah dosa, tetapi hanya masalah strategi dan teknis pekerjaan
belaka. Korupsi bukan kesalahan tetapi merupakan suatu hasil . Katakanlah hasil dari sebuah lobby yang baik dan berkenan.

Baru tadi pagi saya mendengar di radio , bahwa untuk kasus kasus tahanan korupsi, ada kesulitan untuk menempatkan tahanan pada lapas yang ada, karena semakin banyaknya tahanan tahanan pada kasus korupsi ini.

Sudah saatnya kita memandang profesi itu sebagai bagian dari ibadah, yang harus kita lakukan dengan penuh tanggung jawab dunia maupun akhirat. Sudah saatnya juga kita memahami bahwa korupsi juga sebuah dosa. Sudah saatnya para pemuka agama menyerukan bahwa korupsi itu haram hukumnya. Jadilah orang yang rendah hati & bersahaja!