06 September 2009

KISAH PIPA DAN EMBER


Di sebuah desa terjadi krisis air sumber mata air terletak di gunung (yang tentunya lebih tinggi dari desa itu) tetapi dipisahkan oleh sebuah lembah sehingga air tidak bisa mengalir ke desa tersebut. Pak kepala desa mengadakan sayembara untuk mengalirkan air dari gunung ke desa tersebut dengan ember (Imbalan tiap embernya $1). Ternyata ada dua orang yang berminat dan menerima tawaran itu yaitu si Pipo dan Embro. Mereka adalah dua orang pemuda miskin yang rajin dan ingin merubah dirinya untuk menjadi kaya. Dan kedua pemuda itu setuju dan mulai mengerjakannya pada pagi harinya.

Mulanya mereka mengerjakan pekerjaan yang sama dengan bersemangat, tetapi setelah berbulan-bulan mereka merasa bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja dan penghasilan yang tidak lebih dari hitungan ember itu tadi. Mereka mulai berkreasi dan kita lihat apa yang mereka lakukan :

Embro
Embro berfikir jika dia bisa membawa ember lebih banyak tentunya dia akan mendapatkan uang yang lebih banyak, maka ia berlatih "fitness" dan berusaha membawa dua ember tiap kali mengambil air. Kemudian ia mengubah ukuran embernya yang isinya dua kali lebih besar dari ukuran sebelumnya hingga sekali mengambil air ia bisa menghasilkan empat ember. Namun, apa yang terjadi? walaupun badan Embro semakin berotot dan dia banyak menghasilkan banyak uang (4 x dari yang dihasilkan oleh Pipo pada waktu itu) tetapi ia banyak menghabiskan energinya untuk mengangkat ember, membelanjakan uangnya untuk memulihkan kondisi badannya dan menambah supply makanan untuk mendukung pekerjaannya.
Bahkan di malam harinya ia sering meminum minuman keras sebagai pelampiasan tekanan atas kerja kerasnya sehari penuh. Akhirnya setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun badan Embro pun semakin tua dan lemah sehingga Ia mengurangi porsi kerjanya dan malangnya ia jatuh sakit.
Embro kehilangan pekerjaannya dan penghasilannya hingga ia membutuhkan pertolongan orang lain untuk menyambung hidupnya.

Pipo
Pada awalnya Pipo melakukan hal yang sama dengan Embro dan mencari cara yang lebih baik untuk menambah penghasilannya, tetapi ia tetap mengerjakan pekerjaan itu secara wajar. Namun, Pipo lebih tertarik untuk membangun jaringan pipa yang menghubungkan antara sumber mata-air di gunung dan desanya.
Ia menyisakan waktu luang dan penghasilannya untuk membangun jaringan pipa meter demi meter dan peralatan penyangga serta sebuah dam yang bisa menampung seluruh air yang berhasil dialirkan. (Dimana Embro hanya beristirahat untuk memulihkan kondisi badannya) Pipo bercita-cita bisa menjadi penyalur air di desanya yang bisa memenuhi seluruh warga desa tersebut (Cita-cita yang mulia bukan?) walaupun banyak penduduk sekitar yang mencemooh termasuk si Embro.
Hingga berbulan-bulan dan bertahun-tahun akhirnya dengan kerja yang tidak hanya keras, tetapi cerdas dan efektif  Pipo berhasil membangun jaringan pipa air dan dam dengan nama "Pipo Corporation" yang menyediakan supply air dengan harga yang murah dan jumlah yang tak terbatas.
Akhirnya Pipo pun berhenti dari pekerjaan biasanya dan menerima uang hasil usahanya tanpa ia bersusah payah yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang Embro dapatkan.
Pipo telah berhenti bekerja dan ia tetap menerima uang dari keuntungan perusahaan yang ia bangun, ia bisa pergi berlibur ke luar negri, bisa punya rumah bagus dan yang utama bisa memberi manfaat kepada seluruh desa bahkan ke desa sekitarnya.

Nah dalam dunia nyata ini sejujurnya kita juga menemukan kenyataan yang tidak jauh dari cerita tersebut  dimana banyak orang yang sibuk dan menghabiskan waktu efektifnya hanya untuk melakukan pekerjaan yang kurang efektif sehingga mendapatkan hasil yang sesuai pula.

Kita bisa melihat kisah bagaimana Bill Gates (Mahasiswa Harvard Univ. yang tidak menyelesaikan studinya) membangun Microsoft Corporation dengan sebuah ide hanya ingin menciptakan Operating System (software, Windows) untuk IBM-PC yang bisa dipakai oleh berbagai macam platform dan macam komputer  sehingga dari situ diharapkan penggunanya bisa lebih mudah menggunakannya (user-friendly), integritas PC yang tergabung dalam Internet Explorer serta mobile operating systemnya, WindowsCE (Siapa yang nggak kenal DOS, Windows, Internet Explorer?) dan yang membanggakan hampir seluruh saham Microsoft Corporation dimilikinya hingga ia dikenal sebagai orang terkaya di dunia.

Kita juga masih ingat Oprah Winfley (Seorang Presenter wanita ternama di USA) yang berhasil membangun HARPO Corporation, hingga profesi presenter yang semula menjadi tulang punggung penghasilannya kini menjadi kegiatan sampingannya.

Juga Ustadz Abdullah Gymnastiar yang begitu hebatnya mengambangkan MQ Corporation yang memiliki lebih dari 17 anak perusahaan. Ia berhasil mengurusnya dan tanpa mengganggu aktivitas dakwahnya.

Bagaimana dengan kita?
Pernahkah kita ingin merasakan seperti mereka?
Sudahkah kita berniat dan berusaha untuk menjadi seperti mereka ataupun lebih baik lagi?
Pernahkah kita memberanikan diri untuk melakukan seperti apa yang mereka lakukan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar